Telisik Opini

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an yang Mulia

infopriangan.com, TELISIK OPINI. Umat Islam memahami bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dimuliakan. Di dalamnya terkandung berbagai keutamaan, mulai dari limpahan rahmat, ampunan, hingga pahala yang dilipatgandakan. Salah satu kemuliaan terbesar yang terjadi pada bulan ini adalah peristiwa diturunkannya Al-Qur’an. Momen ini dikenal luas sebagai Nuzulul Qur’an, dan menjadi pengingat penting bagi umat Islam mengenai kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185, dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci untuk dibaca atau dihafalkan, melainkan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Banyak pihak menilai bahwa Al-Qur’an saat ini lebih banyak dijadikan simbol spiritual daripada sumber solusi kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum diterapkan secara menyeluruh, baik oleh individu, masyarakat, maupun negara. Fenomena ini terlihat dari berbagai krisis moral dan sosial yang terus berulang seperti praktik riba, perzinaan, kekerasan, dan ketimpangan sosial yang semakin meluas.

Sebagian kalangan menyadari bahwa berbagai bentuk kerusakan tersebut merupakan akibat dari dijauhkannya Al-Qur’an sebagai dasar berpikir dan bertindak. Ketika sistem kehidupan tidak lagi bersandar pada wahyu, melainkan pada aturan buatan manusia yang terbatas, maka lahirlah ketidakadilan, kesenjangan, serta krisis identitas di tengah umat.

Sistem yang saat ini dominan, yaitu demokrasi dan kapitalisme, dinilai banyak pihak sebagai sistem yang rapuh dalam memberikan solusi menyeluruh bagi problematika manusia. Sistem ini bersumber dari akal manusia, yang tidak lepas dari keterbatasan dan kepentingan. Berbeda halnya dengan sistem Islam yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Sistem ini diyakini sebagai sistem yang sempurna karena berasal dari Sang Maha Pencipta, yang memahami seluruh kebutuhan manusia.

BACA JUGA: Dualisme Musda PRIMA Banjar Tuai Polemik

Oleh karena itu, sebagian ulama dan cendekiawan menyerukan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an, bukan hanya dalam aspek ibadah personal, tetapi juga dalam tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Mereka berpendapat bahwa penerapan nilai-nilai Al-Qur’an secara menyeluruh akan membawa umat menuju kehidupan yang penuh berkah, adil, dan sejahtera.

Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab suci untuk dibaca saat Ramadhan atau saat musibah melanda. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang relevan sepanjang masa. Melalui pemahaman yang benar, pembelajaran yang berkelanjutan, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan umat ini dapat bangkit dan keluar dari keterpurukan.

Kini saatnya umat Islam merefleksikan kembali hubungannya dengan Al-Qur’an. Bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai sumber hukum, pedoman perilaku, dan solusi atas persoalan hidup. Dengan begitu, keberkahan Ramadhan bukan hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga tampak nyata dalam perubahan hidup yang lebih baik dan bermakna. (Amalia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *