Tokoh Muda Banjarsari Kritik Penyelenggaraan Studi Kebangsaan di SMPN 1
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Seorang tokoh pemuda dari Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menyampaikan kritik terhadap mekanisme penyelenggaraan program studi wawasan kebangsaan di SMP Negeri 1 Banjarsari.
Zenal, tokoh muda setempat, menilai bahwa proses sosialisasi program tersebut terkesan dilakukan tanpa persiapan yang matang.
Dalam pernyataannya saat ditemui di kediamannya, Zenal mengungkapkan bahwa pihak sekolah tidak mengadakan rapat terlebih dahulu dengan orang tua siswa sebelum melaksanakan program. Ia menilai hal tersebut kurang tepat, mengingat pentingnya keterlibatan orang tua dalam memutuskan keikutsertaan anak mereka.
“Salah satu contoh yang membuat saya kurang setuju adalah tidak adanya rapat atau musyawarah dengan orang tua siswa mengenai rencana program ini,” ujar Zenal.
Menurut Zenal, beberapa orang tua siswa mengaku hanya menerima surat izin yang dikirim melalui anak-anak mereka. Surat tersebut berisi informasi singkat tentang program, tanpa ada penjelasan detail atau kesempatan untuk berdiskusi.
Hal ini membuat Zenal curiga bahwa pihak sekolah mungkin hanya menggunakan sistem polling tanpa mempertimbangkan pendapat orang tua.
“Jika mekanismenya hanya sebatas surat yang dititipkan lewat siswa, saya menduga pihak sekolah menggunakan sistem polling tanpa mendengar langsung dari orang tua,” tegasnya.
Zenal juga menambahkan bahwa jika memang program ini dianggap penting bagi siswa, pihak sekolah seharusnya mengundang orang tua siswa dalam rapat resmi. Ia menekankan bahwa banyak aspek yang perlu dibahas, seperti masalah biaya, pemilihan jasa travel, serta jaminan keselamatan siswa.
“Salah satu hal yang pasti menjadi perhatian orang tua adalah biaya. Tidak semua orang tua mampu membiayai kegiatan ini. Selain itu, jaminan keselamatan juga harus diperhatikan,” jelasnya.
Zenal menyampaikan keyakinannya bahwa jika mekanisme sosialisasi seperti ini terus digunakan, banyak orang tua mungkin tidak akan mengizinkan anak mereka untuk ikut program tersebut. Menurutnya, banyak orang tua merasa tidak mendapat informasi yang cukup mengenai manfaat dan keunggulan program.
“Orang tua tentu khawatir jika tiba-tiba harus membayar tanpa mendapat penjelasan lebih detail,” katanya.
Ia juga menyinggung masalah teknis yang terjadi selama pelaksanaan program. Zenal mendapatkan informasi bahwa salah satu bus yang membawa rombongan siswa mogok saat perjalanan pulang. Hal ini menunjukkan, menurutnya, pentingnya pihak sekolah lebih selektif dalam memilih jasa travel dan memastikan kondisi kendaraan.
“Ini seharusnya jadi pembelajaran bagi pihak sekolah. Kendaraan harus dicek dengan baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Meski demikian, Zenal menegaskan bahwa dirinya mendukung program-program pendidikan yang diadakan oleh sekolah, termasuk studi wawasan kebangsaan ini. Namun, ia berharap agar ke depannya pihak sekolah lebih transparan dan melibatkan orang tua lebih aktif.
“Saya sebenarnya mendukung program ini, tapi pihak sekolah perlu mengundang orang tua dan melakukan sosialisasi yang lebih jelas sebelum menjalankan program,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua Komite SMPN 1 Banjarsari, Habib, mengakui bahwa memang tidak ada rapat terbuka dengan orang tua siswa sebelum program dilaksanakan. Namun, ia menyatakan bahwa diskusi sempat dilakukan melalui grup WhatsApp dan tidak ada komplain dari para orang tua.
“Kami memang sempat membahasnya lewat grup WhatsApp, dan dari situ tidak ada komplain dari orang tua siswa,” ungkap Habib.
BACA JUGA: Museum Fosil Tambaksari Diresmikan, Tingkatkan Kesadaran Warisan Alam
Habib juga menambahkan bahwa keikutsertaan siswa dalam program ini tidak bersifat wajib. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah tidak memaksa orang tua untuk mengizinkan anak-anak mereka mengikuti program tersebut.
“Program ini sifatnya tidak wajib, jadi kami tidak memaksa,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Banjarsari, Handoko, menjelaskan bahwa program studi wawasan kebangsaan sangat penting bagi siswa. Menurutnya, program ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar langsung di lapangan. (Revan, Rizky/infopriangan.com)

