Warga Karangsari Bertahun Hidup Terjebak Rob Laut

infopriangan.com, BERITA NASIONAL. Di pesisir Karangsari, Kabupaten Kendal, warga selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan rob yang datang dan pergi tanpa bisa diprediksi. Saat air laut naik, jalanan hilang ditelan genangan, rumah tak pernah benar-benar kering, dan aktivitas harian berubah menjadi upaya bertahan. Bagi mereka, rob bukan peristiwa musiman, melainkan kondisi hidup yang mengekang ruang gerak dan membuat lingkungan terasa buntu baik secara fisik maupun sosial.

Perubahan mulai terlihat ketika Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) bersama pihak terkait membuka akses jalan dan memasukkan kawasan Karangsari ke dalam program Konsolidasi Tanah. Program ini tidak hanya mengatur ulang permukiman, tetapi juga mengubah cara warga memandang tanah mereka. Tanah yang sebelumnya dianggap sekadar ruang bertahan kini dipahami sebagai aset yang bisa berkembang nilainya.

Ahmad Saiful, salah satu warga Karangsari, menyampaikan rasa terima kasihnya usai menerima sertipikat dari Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid.

“Jadi adanya program Konsolidasi Tanah ini sangat membantu sekali untuk masyarakat, khususnya buat Kelurahan Karangsari,” ujarnya.

Program tersebut diinisiasi Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal sebagai upaya penataan kawasan kumuh yang kerap terdampak rob. Dengan kesukarelaan warga melepaskan sebagian tanah dan kerja sama pemerintah, Karangsari ditata ulang agar lebih layak huni. Penataan dilakukan secara bertahap di area seluas 40.568 meter persegi.

Dalam prosesnya, dibangun 44 unit rumah baru, peningkatan kualitas dan rehabilitasi 47 rumah, serta perbaikan jalan lingkungan sepanjang 174 meter. Pemerintah juga membangun saluran drainase sepanjang 378 meter, tangki septik komunal sebanyak 18 unit, instalasi pengolahan air limbah untuk 91 sambungan rumah, serta jaringan air bersih PDAM. Total fasilitas umum yang dibangun mencapai 696 meter persegi.

Perubahan ini membawa dampak signifikan bagi warga. Ahmad Junaidi, warga lain yang menerima sertipikat, mengakui bahwa lingkungan kini jauh lebih nyaman.

“Semua berubah. Ada sanitasi, ada perumahan, ada sertipikat, alhamdulillah,” katanya.

Ia mengenang kondisi sebelum penataan: rob datang hampir setiap hari, bahkan di bawah langit cerah.

“Sebelum ini memang banjir terus setiap hari. Kini, setelah ada tanggul dan penataan kawasan, rob tidak lagi melumpuhkan seluruh lingkungan. Walaupun masih ada banjir, tapi sudah tidak seperti dulu,” tuturnya.

Menurut warga, dulu jalanan bisa terendam hingga satu meter. Kini intensitas dan ketinggian rob jauh menurun.

BACA JUGA: Mafia Tanah Kian Kompleks, Kolaborasi Jadi Kunci

Program Konsolidasi Tanah memberi kesempatan bagi warga untuk mengatur ulang kehidupan mereka, bukan sekadar bertahan.

“Moga-moga selanjutnya lebih bagus Karangsari,” harap Ahmad Junaidi.

Sertipikat yang diterima Ahmad Saiful dan Ahmad Junaidi merupakan bagian dari 546 sertipikat yang diserahkan Menteri Nusron di Kendal. Sertipikat hasil Konsolidasi Tanah ini terbukti memberikan nilai tambah pada permukiman yang sebelumnya dianggap kumuh dan rentan rob. (Dena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan