Waspada Leptospirosis, Dinkes Pangandaran Ingatkan
infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis. Penyakit menular ini disebabkan oleh bakteri leptospira yang biasanya terdapat pada air atau tanah tercemar urine hewan, khususnya tikus. Jika tidak segera ditangani, leptospirosis bisa berakibat fatal dan bahkan menyebabkan kematian.
Mayoritas kasus leptospirosis yang ditemukan di Pangandaran menyerang kalangan petani serta penyadap kelapa. Kedua profesi ini dinilai paling rentan karena sering berkegiatan di area persawahan, perkebunan, maupun lahan basah dengan tingkat paparan tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pangandaran, dr. Rina Veriany, menuturkan bahwa peningkatan kasus erat kaitannya dengan kondisi lingkungan. Ia menyebutkan, seringnya banjir melanda daerah tersebut membuat genangan air menjadi media penularan penyakit.
“Air yang tergenang biasanya sudah tercemar urine tikus. Ditambah lagi populasi tikus di lingkungan masyarakat cukup tinggi, sehingga risiko penularan semakin besar,” kata dr. Rina dalam keterangannya melalui aplikasi WhatsApp, belum lama ini.
dr. Rina juga mengingatkan, banyak masyarakat yang belum membiasakan diri memakai alat pelindung saat bekerja. Menurutnya, kebiasaan bekerja di sawah tanpa sepatu boot atau sarung tangan membuat peluang bakteri masuk ke tubuh menjadi lebih mudah. “Hal kecil seperti itu sering diabaikan, padahal bisa mencegah risiko besar,” ujarnya.
Sebagai bentuk antisipasi, Dinas Kesehatan telah mengintensifkan sosialisasi ke berbagai wilayah. Edukasi tentang bahaya leptospirosis diberikan terutama kepada kelompok masyarakat dengan risiko tinggi. Selain itu, program pemberantasan tikus juga dijalankan kembali.
“Kami mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Itu kunci utama mencegah penyebaran penyakit,” tambah dr. Rina.
Sementara itu, upaya pencegahan juga dilakukan di tingkat layanan kesehatan dasar. Kepala Puskesmas Legokjawa, Anjar Lukmanul Hakim, S.Kep., Ners., menjelaskan bahwa pihaknya terus bergerak melakukan sosialisasi hingga pelosok desa. Menurutnya, masyarakat desa yang sebagian besar bekerja di ladang dan kebun harus diberi pemahaman khusus agar lebih waspada.
“Kami menyampaikan pesan sederhana kepada warga, misalnya gunakan sepatu boot saat pergi ke kebun, jangan membiarkan rumah kotor, dan selalu cuci tangan setelah beraktivitas. Hal-hal kecil itu bisa menyelamatkan nyawa,” ungkap Anjar saat ditemui, Jumat 26 September 2025.
Menurutnya, langkah ini tidak hanya sebatas kampanye kesehatan, tetapi juga mengajarkan masyarakat untuk mengubah kebiasaan sehari-hari. Ia berharap edukasi terus-menerus dapat memupuk kesadaran kolektif.
BACA JUGA: LKKB Jeluka Competition 2025 Kembali Digelar di Banjar
Beberapa kelompok tani di Pangandaran pun menyambut baik langkah ini. Mereka mulai mengadakan pertemuan rutin dengan pihak puskesmas untuk mendiskusikan cara pencegahan, termasuk mengusulkan penyediaan alat pelindung sederhana bagi petani.
Diharapkan dengan adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga medis, dan masyarakat, kasus leptospirosis di Kabupaten Pangandaran dapat ditekan. Kesadaran menjaga lingkungan bersih, serta kepatuhan memakai alat pelindung saat bekerja di lahan basah, akan menjadi benteng utama dalam mencegah penyebaran penyakit ini.
“Kalau masyarakat disiplin, bukan hanya leptospirosis yang bisa dicegah, tapi juga berbagai penyakit lain yang muncul akibat lingkungan kotor,” pungkas Anjar. (KMP/ infopriangan.com)

