Wisata Jabar Saat Lebaran Apakah Sudah Layak?

infopriangan.com, TELISIK OPINI. Manusia dalam kesehariannya penuh dengan kerja keras. Ibarat racun yang terus mengendap harus segera dibersihkan toksin yang ada, begitu juga dengan rasa, menikmati keindahan alam sekedar memanjakan mata agar semua semangat kembali menjalani berbagai episode kehidupan.

Proses memanjakan mata ini dengan berlibur, harus sepadan manakala menelan biaya yang sedikit terkuras dalam perjalanannya.

Selepas hari raya lebaran, saatnya arus mudik dan libur panjang, di saat itulah destinasi wisata akan dipadati oleh masyarakat.

Hal ini sudah diprediksi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno bahwa Jawa Barat akan kebanjiran wisata saat lebaran di tahun ini.

Menurut Sandiaga, kunjungan yang paling banyak di Jabar itu Bandung Raya dan Puncak. Tren wisata kini mulai merata ke wilayah timur seperti Garut, Pangandaran, Cirebon sampai Kuningan.

Sekitar 80 persen warga akan menikmati dan memanfaatkan momen liburannya, prediksi mencapai 193,6 juta akan mudik ke kota. Bisa jadi mereka singgah, maka harus disiapkan destinasi maupun produk UMKM untuk dibawa pulang.

Dihimbau juga akan ada potensi bencana, karena cuaca yang tidak menentu sehingga harus dipersiapkan oleh pemprov dan pemkab.

Terlebih konsep ekowisata dimana ada kontribusi pada desa wisata sehingga bisa menambah destinasi wisatawan.

Hal senada diungkapkan Pj Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin bahwa Jabar sudah siap menerima kedatangan pemudik dari berbagai daerah di Indonesia saat musim mudik lebaran 2024, dari mulai pantai hingga pegununan semua sektor wisata sudah rampung.

Kordinasi sudah dilakukan melalui para stake holder dari mulai dinas, pejabat dan pekerja terkait.

Secara keseluruhan sudah siap, terutama di daerah Ciayumajakuning wilayah Cirebon, Indramayu.

Majalengka, Kuningan lebih fokus ke pembangunan karena disana ada Bandara Kertajati, bandara yang memenuhi standar internasional.

Saat ini telah digaungkan ekowisata yang menjadi alternatif dan tren wisata baru yang lebih bersahabat dengan alam dan masyarakat, proram unggulan Kemenparekraf dalam skema pembangunan nasional.

Artinya ada pengembangan daerah di desa yang dijadikan wilayah wisata dan fokus pada kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha produktif sesuai potensi sumber daya lokal.

Nyatanya ada saja pihak yang mengambil cara curang dengan korupsi, contoh di Sleman dana hibah pariwisata mencapai Rp10 miliar di lingkungan Pemkab sendiri.

Di Aceh, Kejari Sabang menetapkan dua tersangka pada pembangunan Taman Wisata Gampong Aneuk Laot totalnya mencapai Rp385,8 juta.

Sudah rahasia umum korupsi dilakukan mulai dari kepala desa, bupati, pejabat provinsi, wali kota, para wakil rakyat, hingga pengusaha yang memberi sejumah proyek.

Begitulah perilaku korupsi dilakukan oleh pengayom rakyat. Empuk dan nyamannya kursi jabatan membuatnya lupa pada tugas kerja utamanya.

Ini sangat cocok dengan konsep penta helix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, badan/pelaku usaha, masyarakat, media, komunitas semua berkoordinasi untuk mengembangan inovasi ilmu pengetahuan untuk dikapitalisasi menjadi produk maupun jasa ekonomi.

Dalam sistem kapitalis segala unsur penggerak ekonomi, yang berpotensi upaya kapitalisasi maka itu diperbolehkan untuk dilakukan mulai dari akademisi, badan atau pelaku usaha.

Negara sendiri kurang berperan optimal untuk menjadi sumber pemasukan utama, melainkan dari pajak pariwisata sebagai penggerak ekonomi negara.

Faktanya tempat wisata ketika musim liburan lebih mahal, mulai dari tiket, makanan yang dijual, area parkir dan tukang parkir gadungan, pungli, belum lagi preman yang mengaku warga setempat yang meminta jatah kepada wisatawan. Ini masalah yang terus berulang tanpa penyelesaian.

Cara Pandang Islam

Rekreasi yang melibatkan keindahan alam harusnya menjadi tadabur agar semakin menambah kecintaan dan keyakinan pada kuasa Allah, banyak berdzikir mengingat penciptaanNya, itulah esensi ibadah, di tempat manapun, kemana pun, kecintaan pada Allah selalu mengiringi.

Kini sektor pariwisata sama seperti sektor lainnya telah dikapitalisasi. Menjadi lahan basah mapia tanah, pengusaha, pejabat, masyarakat dari hulu sampai hilir.

Jika tidak memiliki iman di dalam dada, melihat perilaku pungli, biaya tinggi, belum lagi sarana ibadah dan kebersihan sangat kurang, tentulah banyak kesusahan dan akhirnya tanpa rasa syukur mengiringi hari dimana kita akan berwisata.

Belumlah di banyak daerah ibaratnya ada wisata miras, narkoba hingga prostitusi bukan lagi hal yang aneh, dan itu difasilitasi secara legal di beberapa tempat.

Sangat jauh dari kata bersyukur, sementara termasuk orang-orang yang tidak beruntung yang sepanjang harinya tidak mengingat Allah.

Islam memandang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bisa dilakukan oleh penguasa dengan diperbaikinya kondisi ekonomi secara terstruktur.

Penguasa dan jajarannya akan memastikan kebutuhan hidup individu terpenuhi dan peluang memenuhi sampai pada kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Kebijakan politik dan pengaturan kepemilikan sempurna dari tahap umum, individu sampai negara.

Ini terbukti dapat menyejahterakan dan memajukan negara dengan Islam Kaaffah.

Sektor pariwisata dalam sistem Islam tidak akan dikapitalisasi, meski bisa jadi sumber devisa negara.

Ini karena sistem Islam memiliki sumber perekonomian dari pos tetap, terletak di konsep kepemilikan sejumlah SDA tidak bisa diprivatisasi oleh individu dan asing.

Kepemilikannya penuh milik seluruh rakyat dan negara sebagai pengelolanya, dan hasilya untuk rakyat.

Jadi tidak akan ada wahana wisata yang harga tiketnya selangit, karena ranah ini bukan untuk meraup keuntungan yang bisa dijadikan pemasukan daerah.

Bisa jadi negara menggratiskan, jika pun berbayar untuk operasional saja, tidak akan memberatkan.

Dengan begitu tujuan utama pariwisata adalah sebagai sarana dakwah yang didisain tunduk dan takjub pada keindahan alam yang akhirnya mengukuhkan keimanan bagi seorang muslim. Wallahu A’lam.

Ditulis: Ina Agustiani, S.Pd (Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan