Limbah dari Tempat Pemotongan Ayam Dikeluhkan Warga

infopriangan.com, BERITA CIAMIS.  Usaha pemotongan ayam rumahan yang berada di Kelurahan Kertasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, seharusnya menjadi pundi-pundi keuntungan, akan tetapi malah menjadi keluhan tetangga. Jumat, (27/01/2023).

Keluhan tersebut disampaikan warga lingkungan setempat kepada pemerintah Kelurahan Kertasari. Pasalnya dalam pengelolaan usahanya tersebut memberikan dampak kurang baik dari pembuangan limbah yang berbau menyengat.

Selain itu kurang terkelola baik, sehingga air pembuangan limbahnya mengalir ke kolam empang warga yang membuat banyak ikan mati. Sumur air warga juga disinyalir menjadi kurang bersih.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Kelurahan, Heri menjelaskan terkait izin, pihaknya dari kelurahan beserta babinsa, babinmas, serta kasi pemerintahan pernah beberapa kali mendatangi lokasi potong ayam tersebut.

“Saat ditanya dia memang belum memiliki izin usaha potong ayam. Waktu kesana kita mengimbau untuk segera melengkapi persyaratan, kondisikan dan koordinasikan dengan masyarakat sekitar, agar kondusif,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa untuk skala usaha bisa dikatakan lumayan cukup besar, disamping mempunyai warungan, usaha kontrakan, dan menjual ayam di rumah secara online, pelaku usaha juga mempunyai lapak penjualan ayam dan ikan di pasar tradisional ciamis.

Bahkan menurutnya, sempat dimusyawarahkan oleh RT dan lingkungan sekitar agar melakukan pengelolaan limbah dengan baik supaya tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

“Waktu kesana memang sehari bisa mencapai  50 ekor dengan harga yang lebih murah daripada yang lain dan sudah masuk ke pasar-pasar. Sudah berjalan sekitar 2-3 tahun namum belum menempuh izin,” jelasnya.

Pihaknya menerima keluhan warga yang mengeluh bau, dibuang sembarangan, dan tidak ada koordinasi dengan masyarakat sekitar.

“Sudah sering mengimbau dengan aparatur kelurahan dan babinsa,” imbuhnya.

Dalam hal ini, pelaku usaha pemotongan ayam, Budi Setiadi juga memberikan, dan menyampaikan tanggapannya kepada media Info Priangan terkait usahanya.

Ia membenarkan bahwa memulai usahanya sudah mencapai 2-3 tahun. Ia menuturkan sudah mengantongi surat usaha dari kelurahan, dan usahanya beromset sebanyak 30 ekor setiap harinya.

Penampungan ayam yang masih hidup ia membuat kandang disamping rumahnya diatas kolam ikan dengan dikelilingi benteng (tembok). Limbah air pencucian ayamnya ia alirkan dengan pipa ke kolam ikan yang dimilikinya di samping rel kereta tidak jauh dari rumahnya.

“Semenjak corona sudah dua tahun ini, limbah air pencucian ayam dibuang ke kolam dipakai untuk pakan ikan. Biasanya per hari jika ramai 30 ekor ayam dengan harga 23.000 satu kilonya,” jelasnya.

Ia berharap agar usahanya lancar, tetangga nyaman, Budi juga menerima masukan bagaimana baiknya.

Disampaikan juga oleh RT setempat di lingkungan Bolenglang, yang biasa dikenal nama sapaan akrabnya Emon.

Ia menyampaikan bahwa sudah dilakukan komunikasi untuk diberikan pembinaan. Namun sampai saat ini belum menemukan titik terang untuk kerukunan warga masyarakatnya tersebut.

“Selain usaha warungan juga punya usaha potong ayam yang dipromosikan online. Limbahnya memang kurang terolah dengan baik, sudah beberapa kali mencoba diberikan solusi dan arahan untuk menempuh perijinan. Namun belum diindahkan sampai saat ini, malah dapat keluhan dari warga lain karena baunya menyengat,” pungkasnya. (Eddy Supriatna/IP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan