BCFN Banjar: Hiburan dan Motor UMKM
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Perayaan Hari Jadi ke-23 Kota Banjar disebut semakin semarak dengan kembalinya Banjar Car Free Night (BCFN) di Jalan Letjend Suarto. Agenda yang kini memasuki penyelenggaraan kelima itu dinilai bukan sekadar ruang bebas kendaraan, tetapi juga panggung hiburan rakyat dan penggerak ekonomi lokal.
Panitia menyampaikan bahwa BCFN dirancang sebagai ruang publik yang inklusif dan produktif. Mereka menilai kegiatan ini menjadi wadah promosi UMKM sekaligus sarana memperkenalkan kultur Banjar kepada pengunjung luar daerah.
“BCFN bukan hanya hiburan, tapi ruang promosi makanan khas dan penguatan UMKM agar naik kelas,” ujar panitia, Eris Kristian, Sabtu (14/2/2016).
Sejak petang, kawasan acara dilaporkan dipadati ratusan warga. Pengunjung disebut datang bersama keluarga untuk menikmati suasana malam tanpa lalu lintas kendaraan. Lampu-lampu tenda, deretan stan kuliner, dan alunan musik dari panggung hiburan membentuk atmosfer yang hangat.
“Sekarang tiap digelar selalu ramai. Banyak juga yang datang dari luar Banjar,” kata salah seorang pengunjung.
Pemerintah daerah disebut berperan dalam penataan lokasi, pengamanan, dan fasilitasi perizinan. Dukungan tersebut dinilai menjadi faktor penting agar kegiatan berjalan tertib dan aman. Panitia menegaskan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi fondasi utama keberlanjutan acara.
“Kalau pemerintah, panitia, dan pelaku usaha kompak, dampaknya akan terasa luas,” ujar salah satu koordinator lapangan.
Para pelaku UMKM mengaku momentum ini efektif untuk memperluas pasar. Mereka menyebut lonjakan pengunjung berdampak langsung pada peningkatan transaksi. Beberapa pedagang bahkan mengklaim omzet selama BCFN bisa menyamai pendapatan dua hari biasa. “Penjualan meningkat signifikan. Dalam beberapa jam bisa lebih ramai dari hari normal,” ungkap seorang pedagang makanan tradisional.
Meski demikian, sejumlah warga berharap evaluasi tetap dilakukan agar kualitas penyelenggaraan terus meningkat. Mereka menilai penataan parkir dan kebersihan perlu dijaga konsisten seiring bertambahnya pengunjung.
“Acaranya bagus, tapi pengelolaan sampah harus lebih diperhatikan,” kata seorang warga yang rutin hadir.
Antusiasme masyarakat dinilai menjadi indikator keberhasilan BCFN. Baehaki (45), warga Pamarican, Kabupaten Ciamis, menyampaikan bahwa ia hampir selalu datang bersama keluarganya. Ia menilai acara ini menjadi alternatif hiburan murah yang meriah.
“Acaranya seru, pilihan makanannya banyak. Jadi hiburan keluarga yang murah dan menyenangkan,” katanya.
Hal senada disampaikan Asep Anwar (37), warga Banjarsari. Ia menyebut BCFN semakin tertata dari waktu ke waktu dan memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. “Selain kumpul bareng keluarga, kita juga ikut mendukung UMKM. Semoga digelar rutin dan makin baik,” ujarnya.
BACA JUGA: Soedrajat Bantah Cap Korupsi Berjamaah di Banjar!!
Di usia ke-23, Kota Banjar dinilai menunjukkan bahwa pembangunan tak melulu soal infrastruktur fisik. BCFN disebut menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dihidupkan untuk mendorong ekonomi rakyat dan memperkuat kebersamaan sosial. Jalan yang biasanya dipadati kendaraan berubah menjadi ruang interaksi dan transaksi.
BCFN kini tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi simbol kolaborasi. Pemerintah, panitia, dan warga dituntut menjaga konsistensi agar dampak ekonomi dan sosialnya berkelanjutan.
“Kegiatan seperti ini harus terus diperbaiki dan dijaga kualitasnya,” tegas seorang pelaku usaha. (Johan)

