Harga Kolang-Kaling Melonjak Tajam Jelang Ramadan

infopriangan.com, BERITA BANJAR. Ramadan menjadi berkah bagi para pedagang, termasuk mereka yang menjual bahan makanan khas berbuka puasa. Salah satu yang paling dicari adalah kolang-kaling, yang setiap tahun mengalami lonjakan permintaan saat bulan suci tiba. Tingginya minat masyarakat menyebabkan harga komoditas ini naik drastis. Jika biasanya berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 11.000 per kilogram, kini harga kolang-kaling di Pasar Banjar sudah menyentuh Rp 15.000 per kilogram.

Dudi, seorang pedagang kolang-kaling di Pasar Induk Banjar, mengakui bahwa kenaikan harga ini terjadi akibat meningkatnya permintaan. Ia mengatakan, setiap tahun menjelang Ramadan, masyarakat mulai berburu kolang-kaling untuk dijadikan campuran minuman segar dan kolak sebagai menu takjil berbuka puasa.

“Ya, alhamdulillah, ini berkah bagi kami. Harga kolang-kaling naik karena permintaan tinggi. Bahkan, sebelum Ramadan tiba pun harganya sudah mulai merangkak naik,” ujarnya. Selasa, (04/03/2025).

Menurut Dudi, pembeli kolang-kaling di Pasar Banjar didominasi oleh warga setempat. Namun, tak sedikit juga yang datang dari luar kota, terutama mereka yang membeli dalam jumlah besar. Jika pembeli lokal biasanya hanya membeli untuk konsumsi pribadi, pembeli dari luar Banjar sering kali membeli dalam jumlah besar, bahkan hingga satu karung.

“Kalau orang Banjar biasanya beli sedikit untuk konsumsi sendiri. Tapi kalau dari luar Banjar, mereka beli banyak, mungkin untuk dijual lagi,” jelasnya.

Kolang-kaling sebenarnya bukan bahan makanan pokok, tetapi di bulan Ramadan, keberadaannya sangat dibutuhkan. Hal ini membuat harga kolang-kaling selalu mengalami kenaikan signifikan setiap tahun. Bagi para pedagang seperti Dudi, kondisi ini menjadi momen untuk meningkatkan pendapatan.

Namun, kenaikan harga yang terlalu tinggi juga berpotensi menjadi beban bagi masyarakat. Beberapa pembeli di Pasar Banjar mengeluhkan harga yang terus naik setiap tahunnya. Siti, seorang ibu rumah tangga yang rutin membeli kolang-kaling untuk sajian berbuka puasa, mengungkapkan bahwa tahun ini harga terasa lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dulu paling mahal Rp 12.000 per kilogram, sekarang sudah Rp 15.000. Kalau beli banyak, terasa juga bedanya,” katanya.

Meski demikian, Siti tetap membeli kolang-kaling karena sudah menjadi tradisi dalam keluarganya. Ia berusaha menyiasati harga dengan membeli dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, pedagang lain di Pasar Banjar, Ahmad, menilai kenaikan harga ini bukan semata-mata karena permintaan tinggi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor distribusi dan pasokan. Menurutnya, stok kolang-kaling di pasaran tidak selalu stabil, apalagi jika faktor cuaca mempengaruhi hasil panen.

“Kadang stok dari petani terbatas, belum lagi ongkos kirim yang naik. Jadi, wajar kalau harga juga ikut naik,” ungkap Ahmad.

Bagi para pedagang, bulan Ramadan menjadi masa panen keuntungan. Namun, bagi konsumen, kenaikan harga membuat mereka harus berpikir ulang sebelum membeli dalam jumlah banyak.

Dudi sendiri mengaku bahwa meskipun harga naik, penjualannya tetap stabil. Ia bahkan harus menambah stok lebih banyak agar bisa memenuhi permintaan pelanggan.

“Setiap hari ada saja yang beli. Kalau stok sedikit, bisa-bisa kehabisan sebelum sore,” tuturnya.

Meskipun harga kolang-kaling cenderung naik setiap tahun, para pedagang memperkirakan bahwa puncak kenaikan terjadi di awal Ramadan. Setelah itu, harga kemungkinan akan kembali stabil menjelang pertengahan hingga akhir bulan puasa.

BACA JUGA: Tiga Ketua Kecamatan Desak MPKT Selesaikan Kisruh

Bagi masyarakat yang ingin membeli kolang-kaling dengan harga lebih murah, beberapa pedagang menyarankan untuk membeli lebih awal sebelum Ramadan tiba atau membeli langsung dari distributor dalam jumlah besar.

Di tengah naiknya harga bahan makanan khas berbuka puasa, masyarakat tetap berusaha menyesuaikan pengeluaran agar tetap bisa menikmati sajian tradisional di bulan yang penuh berkah ini. Sementara itu, bagi para pedagang seperti Dudi, lonjakan permintaan kolang-kaling menjadi peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. (Johan/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan