Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia di Ciamis
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Peringatan Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia tahun 2025 berlangsung khidmat dan penuh makna di kawasan Situs Ciung Wanara, Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis. Mengusung tema “Perdamaian Menyatukan Hati”, acara ini menjadi momentum untuk mengingatkan kembali arti penting persaudaraan, persatuan, serta nilai kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat. Selain itu, tampak jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar, Forkopimda Kabupaten Ciamis, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ciamis, para budayawan, serta ratusan tamu undangan. Kehadiran berbagai unsur pemerintahan, tokoh agama, dan masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa semangat perdamaian bisa menyatukan semua pihak.
Perwakilan Pemprov Jabar menyampaikan bahwa Gong Perdamaian Dunia bukan sekadar benda budaya, melainkan simbol universal yang mengajarkan pentingnya hidup dalam harmoni. “Perdamaian harus kita rawat bersama. Jawa Barat bangga karena Ciamis menjadi salah satu pusat lahirnya semangat itu,” ujarnya dalam sambutan.
Acara diawali dengan pementasan tarian Ciung Wanara, sebuah karya seni tradisional yang mengangkat kisah legendaris tokoh Ciung Wanara dari tanah Galuh. Tarian ini menghadirkan gerak luwes para penari dengan iringan gamelan, mencerminkan semangat kebijaksanaan, perjuangan, dan keadilan yang diwariskan leluhur. Penampilan tersebut berhasil memukau penonton dan menegaskan kembali bahwa warisan budaya lokal memiliki pesan moral yang relevan hingga masa kini.
Setelah itu, tokoh perdamaian Anton Carlian membawakan sesi khusus mengenai perjalanan Gong Perdamaian Dunia. Ia menjelaskan bahwa gong yang berada di Karangkamulyan merupakan bagian dari jaringan gong perdamaian yang tersebar di berbagai negara. Gong tersebut kerap hadir dalam momentum penting dan menjadi pengingat bahwa keberagaman seharusnya memperkuat rasa kebersamaan, bukan memecah belah.
Anton juga memperkenalkan konsep Sepuluh Perdamaian Galuh, yang bersumber dari nilai-nilai luhur masyarakat setempat. Kesepuluh prinsip itu adalah: Mawasana pangatrawanan (senantiasa waspada), Atuntunan tangan (saling menolong), Paras paropakara (sikap menghargai sesama), Mitra samaya (menepati janji), Paribhaksa (tidak merugikan orang lain), Telaksaken apa kenak (bertanggung jawab atas kewajiban), Mapulang rahi (ikhlas memberi), Kaharep saduluran (mengutamakan persaudaraan), Parapura (menghormati keberagaman), dan Maryada sakengsi tutu (menjunjung tinggi martabat serta kejujuran).
Menurut Anton, nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan modern. “Kalau sepuluh perdamaian Galuh ini benar-benar dijalankan, bukan hanya Ciamis, tetapi dunia pun akan terasa damai,” tuturnya. Pesan itu disambut tepuk tangan hadirin yang hadir. Selasa, (09/09/2025).
BACA JUGA: SDN 4 Kawasen Sambut Hangat Program Makan Bergizi Gratis
Sebagai penutup, seluruh tamu kehormatan bersama-sama menabuh Gong Perdamaian Dunia. Tabuhan gong menggema di kawasan situs bersejarah Ciung Wanara, menjadi simbol doa agar harmoni, toleransi, dan persaudaraan terus terjaga. Suasana penuh haru dan semangat kebersamaan terlihat jelas ketika bunyi gong terdengar, seolah mengikat hati semua yang hadir dalam satu tujuan mulia: menjaga perdamaian.
Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga ruang refleksi bersama. Dengan memadukan seni, budaya, dan nilai kearifan lokal, acara ini mengingatkan masyarakat bahwa perdamaian adalah warisan yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya. (Eddy )

