Dugaan Limbah Dapur SPPG Cemari Sumber Air Warga

infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN.  Harapan warga Dusun Bantarsari, Desa Cimerak, Kabupaten Pangandaran, terhadap manfaat Program Makan Bergizi Gratis justru diwarnai keresahan. Sejumlah warga mengaku sumber mata air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari diduga tercemar akibat aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut.

Warga menyampaikan bahwa perubahan kondisi air mulai dirasakan setelah dapur SPPG beroperasi. Mereka menilai air yang sebelumnya jernih kini berubah warna dan berbau tidak sedap. Saleh, salah seorang warga, menuturkan bahwa sumber mata air itu berada di atas lahan miliknya dan telah dimanfaatkan bertahun-tahun oleh masyarakat sekitar.

“Dulu airnya jernih dan layak pakai. Sejak ada dapur itu, air berubah. Bau menyengat dan warnanya jadi hijau keruh,” ujarnya, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa lokasi pencucian peralatan dapur disebut berada di area terbuka di tepi jalan. Air buangan dari aktivitas tersebut diduga mengalir ke saluran yang terhubung dengan sebuah goa kecil yang menjadi salah satu sumber mata air warga. Menurutnya, dugaan itu muncul karena perubahan kualitas air terjadi setelah kegiatan dapur berjalan. “Kami menduga ini dari limbah cucian dapur yang langsung mengalir ke saluran air,” katanya.

Warga mengungkapkan bahwa sumber air tersebut digunakan oleh sembilan rumah dan satu masjid, termasuk untuk keperluan wudu. Mereka menyebut kondisi air yang tercemar tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada kenyamanan dan kesehatan. Saleh mengatakan bahwa penggunaan air untuk mandi kini menimbulkan rasa gatal pada kulit.

“Dipakai mandi saja terasa gatal. Kalau untuk masak, kami sekarang beli air karena tidak berani pakai air sumur lagi,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa setiap sore dirinya bersama warga lain harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyedot dan mengambil air bersih dari lokasi berbeda. Kondisi itu dinilai memberatkan karena sebelumnya mereka tidak pernah mengeluarkan biaya untuk air. “Sekarang hampir tiap hari harus cari air ke tempat lain. Ini jelas menambah pengeluaran,” tuturnya.

Warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak Program Makan Bergizi Gratis. Mereka justru mendukung tujuan program tersebut, namun meminta agar pengelolaan limbah dilakukan sesuai standar lingkungan. Saleh menyampaikan bahwa yang mereka persoalkan adalah dampak yang muncul akibat pengelolaan yang dinilai belum optimal.

“Programnya bagus, kami mendukung. Tapi pengelolaan limbahnya jangan asal buang. Kami yang jadi korban,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Hendra, warga lainnya. Ia mengaku sudah sekitar dua pekan terakhir mencium bau tidak sedap dari air yang digunakan keluarganya. Ia menyebut kondisi itu membuat keluarganya terpaksa membeli air untuk memasak dan kebutuhan penting lainnya. “Air ini dipakai juga untuk ibadah. Sekarang harus beli air terus. Mau bagaimana lagi,” ujarnya.

BACA JUGA: Setahun Memimpin, Kartu Berdaya Perlu Dievaluasi

Warga mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pemerintah desa. Mereka menyebut musyawarah sempat digelar di aula desa pada Jumat 20 Februari 2026 untuk mempertemukan warga terdampak dengan pihak terkait. Namun, mereka menilai pertemuan tersebut belum menghasilkan solusi konkret.

“Kami berharap ada pemeriksaan kualitas air dan penanganan serius supaya sumber air kembali layak digunakan,” kata salah seorang warga.

Masyarakat berharap pemerintah dan pengelola dapur SPPG segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk uji laboratorium kualitas air dan perbaikan sistem pembuangan limbah. Mereka menekankan bahwa program publik harus berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan.

“Kami hanya ingin air kembali bersih dan aman seperti dulu,” pungkasnya. (KMP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan